Mengukur Kedalaman Iman
Sering kali kita mengukur tingkat religiusitas seseorang dari seberapa rajin ia beribadah secara ritual. Kita kagum pada mereka yang tak pernah absen salat berjemaah di masjid atau mereka yang rutin berpuasa sunah. Tentu, itu adalah pencapaian spiritual yang luar biasa. Namun, apakah agama hanya sebatas urusan kita dengan Tuhan?
Dalam Islam, kesempurnaan beragama justru diuji ketika kita berinteraksi dengan manusia lainnya. Di sinilah letak keseimbangan antara hablum minallah (hubungan dengan Allah) dan hablum minannas (hubungan dengan sesama manusia).
Sebaik-baik Manusia Menurut Sabda Nabi
Rasulullah SAW memberikan sebuah parameter yang sangat jelas dan sederhana tentang siapa manusia terbaik. Beliau tidak menyebutkan mereka yang paling banyak hartanya, paling tinggi jabatannya, atau yang paling panjang salatnya.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Khairunnasi anfa'uhum linnas.
Artinya: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad dan Thabrani)
Hadis ini adalah fondasi penting dalam hubungan manusia dan agama. Kesalehan individual harus berbuah menjadi kesalehan sosial. Percuma jika dahi kita hitam karena sujud, tetapi tetangga kita kelaparan dan kita menutup mata. Percuma jika lisan kita basah oleh zikir, tetapi kata-kata yang sama sering menyakiti hati rekan kerja atau teman kuliah.
Perintah Berbuat Baik dalam Al-Qur'an
Keharusan untuk saling tolong-menolong dan membawa kebermanfaatan juga ditegaskan secara langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat Al-Ma'idah ayat 2:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Wa ta'āwanū 'alal-birri wat-taqwā wa lā ta'āwanū 'alal-itsmi wal-'udwān.
Artinya: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan." (QS. Al-Ma'idah: 2)
Selain itu, Allah SWT juga mengingatkan bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan sebenarnya akan kembali kepada diri kita sendiri:
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ
In ahsantum ahsantum li'anfusikum.
Artinya: "Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri..." (QS. Al-Isra': 7)
Kebermanfaatan Tidak Harus Menunggu Kaya
Banyak yang salah kaprah mengira bahwa untuk menjadi bermanfaat, kita harus memiliki uang yang banyak untuk bersedekah atau kedudukan tinggi untuk menolong orang lain. Padahal, Islam mendefinisikan "manfaat" dengan sangat luas dan inklusif.
Ilmu: Berbagi pengetahuan, mengajarkan keahlian, atau sekadar membantu teman yang kesulitan memahami materi kuliah.
Tenaga & Waktu: Membantu menyeberangkan jalan, membuang duri atauBoleh! Biar pas, kamu bisa sebutin dulu topik atau tema apa yang mau dicari ayat Al-Qur'an dan hadisnya?
Menjadikan Kebermanfaatan sebagai Gaya Hidup
Mulai sekarang, mari ubah pola pikir kita di pagi hari. Alih-alih sekadar bertanya, "Apa yang bisa saya dapatkan hari ini?" cobalah ganti dengan, "Apa yang bisa saya berikan hari ini?"
Setiap langkah kecil yang kita niatkan untuk memudahkan urusan orang lain, sekecil apa pun itu, bernilai ibadah di mata Allah SWT. Agama hadir bukan untuk mengisolasi kita di dalam tempat ibadah, melainkan untuk membekali kita agar mampu menjadi cahaya saat kita melangkah keluar dan membaur dengan masyarakat.
Mari menjadi manusia yang kehadirannya selalu dinanti, dan kepergiannya selalu dirindukan.
Komentar
Posting Komentar